Jorge Lorenzo Ingin Kembalikan Insting 'Pembunuh' Maverick Vinales

Top Gun telah meminta bantuan sang Juara Dunia MotoGP untuk menjadi salah satu pembalap yang paling ditakuti di grid pada musim 2026.

Usai pensiun dari MotoGP, Jorge Lorenzo telah mengganti briefing pagi hari dengan bangun siang, dan akhir pekan balapan dengan liburan keliling dunia ke pantai-pantai yang bermandikan sinar matahari. Dari usaha investasi hingga meluncurkan siniar miliknya sendiri. Kehidupan setelah balapan terasa nyaman, tetapi ada sesuatu yang hilang.

Jadi, ketika panggilan itu datang, pria Spanyol itu tidak perlu lama-lama merasa ragu. Lorenzo kini 'kembali ke dunianya', dan mengusung misi yang jelas.

Jorge Lorenzo as Maverick Viñales coach
Jorge Lorenzo as Maverick Viñales coach

Tentu saja, di ujung sana ada Maverick Vinales (Red Bull KTM Tech3), dan Lorenzo kembali untuk membangkitkan sesuatu yang menurutnya telah meredup selama lima atau enam tahun terakhir – ketajaman dan ketegasan Top Gun.

Jauh sebelum gemerlap dan glamor MotoGP, Lorenzo ingat pernah mendengar tentang seorang anak ajaib berusia delapan tahun. "Semua orang bilang dia seorang 'pembunuh'. Dia benci kalah," kenangnya saat Tes Sepang lalu.

Di suatu titik, Lorenzo merasa amarahnya telah mereda, namun talentanya tidak. Pembalap yang dulu identik dengan nomor #99 itu bersikeras, bahwa tak ada rider lain yang seperti Top Gun dalam hal kecepatan dan bakat murni. Itulah misinya untuk mengeluarkan potensi terbaik dari Vinales.

Lorenzo juga mengklaim pembalap Tech3 itu telah menemukan kembali rasa urgensi. "Sekarang dia mengerti, setelah memiliki beberapa anak perempuan dan menghabiskan waktu bersama istrinya, dua atau tiga tahun ke depan akan menjadi tahun-tahun terakhirnya. Dia ingin memberikan lebih dari 100% kemampuannya agar bisa berdamai dengan dirinya sendiri," ucapnya.

Pertarungan terbesar seringkali bersifat internal – dan dalam kasus ini, pertarungan dimulai di dalam garasi KTM sendiri. Bagi Maverick Vinales dan Jorge Lorenzo, tolok ukur sebenarnya hanya berjarak beberapa meter.

Pedro Acosta (Red Bull KTM Factory Racing) menduduki peringkat keempat klasemen akhir MotoGP 2025. Dan tampaknya, El Tiburon siap menjadi titik acuan untuk RC16 lagi pada musim 2026.

Vinales – yang sekarang didampingi Lorenzo sebagai pelatif performanya – berniat untuk menantang asumsi tersebut.

"Target tahun ini adalah menjadi KTM teratas. Ini tidak akan mudah karena Pedro datang dengan sangat kuat. Dia memiliki banyak energi dan bakat," tukas Lorenzo.

"Jika Maverick mengalahkan Pedro Acosta, maka dia bisa berjuang untuk meraih kemenangan," imbuh anggota Hall of Fame MotoGP tersebut.

Sebelum cedera di GP Jerman mengganggu momentumnya, Vinales adalah pembalap terkuat KTM. Ia bahkan membantu mengarahkan keseluruhan performa RC16. Frustrasinya selama musim dingin dapat dimengerti. Dan di MotoGP, Lorenzo mencatat, hidup bisa berubah dalam sekejap. Tetapikelegaan usai Tes Sepang – terutama melihat bahu yang cedera mampu menahan benturan – menghilangkan keraguan fisik terakhir. Ya, fondasi Maverick telah kembali.

Kini, dengan tubuhnya yang pulih dan semangatnya kembali, pertanyaannya bukanlah apakah Maverick Vinales cukup cepat. Namun apakah ia dapat menemukan kembali insting 'pembunuh' yang telah menghasilkan 10 kemenangan MotoGP bersama tiga pabrikan berbeda – dan bahkan bisa membuatnya menjadi pembalap pertama yang menang dengan empat pabrikan berbeda.

Bagi Jorge Lorenzo, targetnya sederhana. Yaitu membantu salah satu veteran paling bertalenta di grid MotoGP untuk menemukan kembali versi terbaiknya – dan menjadikannya andalan KTM dalam prosesnya.

Ini Bukan untuk Semua Orang

Perangkat apa pun, kapan pun, di mana pun. Saksikan musim 2026 dengan MotoGP™VideoPass!

Langganan Sekarang!
Dapatkan Newsletter Resmi MotoGP™!
Buat akun sekarang untuk mengakses konten video, laporan hasil balapan, hingga Newsletter MotoGP™ serta informasi menarik lainnya.