Marc Marquez (Ducati Lenovo Team) menempati posisi kedua usai kualifikasi MotoGP Petronas Grand Prix of Malaysia. Pada balapan Tissot Sprint, ia sempat turun ke posisi keempat pada lap pembuka. Ia kemudian naik ke posisi ketiga, lalu posisi kedua pada Lap 8, hingga akhirnya finis dengan selisih 0,578 detik di belakang sang pemenang, Pedro Acosta (Red Bull KTM Factory Racing).
"Ini adalah podium yang sangat berharga karena memberi saya sembilan poin. Mengambil risiko lebih besar mungkin bisa menghasilkan 12 poin, tetapi bisa saja justru berakhir dengan nol poin," ucap Marc Marquez.
"Dengan kata lain, keseimbangan antara risiko dan imbalan tidaklah tepat. Start yang buruk membuat balapan menjadi rumit, jadi saya harus menggunakan akal sehat. Saya membangun ritme balapan dari titik tersebut dan memaksimalkan potensi yang ada."
Perihal strategi saat menghadapi Sprint Sepang, sang Juara Dunia bertahan memaparkan, "Prioritas utama saya, di atas segalanya, adalah untuk tidak memimpin balapan. Pihak Ducati telah memperingatkan saya sebelum balapan bahwa situasi seperti ini mungkin terjadi.
"Jadi, saya teringat skenario serupa di masa lalu—tepatnya pada 2014... di Aragon. Karena saya sempat terjatuh di Jerez awal tahun ini, saya berkata pada diri sendiri, 'Jangan sampai jatuh—dalam kondisi apa pun.' Strategi saya jelas. Tetap berkendara tepat di belakang mereka."
Menyusul raihan finis kedua dalam balapan Tissot Sprint, Marc Marquez memperlebar keunggulan dari 10 poin menjadi 19 poin atas rivalnya dalam perebutan gelar juara, Jorge Martin (Aprilia Racing).
Martinator mundur dari GP Malaysia karena fokus pada pemulihan cedera pergelangan tangan kanan yang dideritanya akibat kecelakaan saat Sprint Phillip Island akhir pekan lalu.
"Hanya tersisa beberapa balapan lagi, tetapi banyak hal bisa terjadi—kita tidak pernah tahu apa yang akan berlangsung. Kami tetap menjaga fokus penuh. Seperti yang Anda lihat, saat harus tampil agresif, saya akan memacu motor. Saat harus menggunakan akal sehat, saya pun melakukannya—meskipun terkadang, otak saya tidak sepenuhnya mau diajak bekerja sama," ungkap rider #93.
Menanggapi manuver agresif Ai Ogura (SuperFile Trackhouse MotoGP Team), Marc Marquez mengatakan bahwa pembalap Jepang itu berusaha menempatkan dirinya di depannya agar tidak kehilangan kesempatan naik podium.
"Dia (Ogura) tidak bisa membiarkan dirinya berada di antara Marco Bezzecchi dan saya, karena itu berarti saya akan meraih lebih banyak poin," ujarnya.
"Sudah menjadi rahasia umum bahwa lintasan ini sempit, dan saya sudah mengantisipasi bahwa dia akan tampil agresif. Saya mampu terus memacu motor—saya tahu jika saya tidak melakukannya, Marco akan melancarkan aksinya. Salah satu target saya adalah finis di depan Marco Bezzecchi."