Meskipun perpisahan dengan Phillip Island tak seperti yang kita bayangkan, kunjungan ke Australia tetap menjadi momen yang sangat berkesan. Red Bull Grand Prix of Australia menghadirkan kejutan baru dalam peta persaingan titel Kejuaraan Dunia.
Selisih 10 poin—itulah jarak yang memisahkan Marc Marquez (Ducati Lenovo Team) dan Jorge Martin (Aprilia Racing) setelah pembalap bernomor #89 itu mengalami kecelakaan dalam balapan Sprint.
"Delapan Lap di Batas Kemampuan"
Di mana lagi kita harus memulai kalau bukan dari sang pemuncak klasemen? Marc Marquez kini memegang keunggulan usai mengamankan 12 poin dari GP Australia, sebelum akhirnya mengucapkan selamat tinggal kepada Phillip Island dalam lap of honour pada akhir pekan lalu. Kepercayaan diri #93 sedang tinggi-tingginya. Setelah meraih pole position, ia mengakui harus memacu motor hingga batas maksimal saat Sprint, sembari bertarung sengit dengan Martin pada lap-lap awal.
Marc Marquez: "Itu adalah pertarungan yang ketat. Delapan lap di batas kemampuan. Delapan lap berjuang untuk posisi yang sama demi meraih 12 poin. Namun, yang terpenting, hari ini (Sabtu) bukan sekadar soal selisih tiga poin. Hari ini adalah saat yang tepat untuk melakukannya. Karena dia tahu ini adalah salah satu sirkuit favorit saya, dan saya pun tahu bahwa sirkuit ini adalah salah satu lintasan di mana motor Aprilia berkinerja dengan sangat baik.
"Memang benar, Anda akan merasakan konsentrasi yang lebih intens. Saat bertarung memperebutkan gelar juara, fokus Anda seolah meningkat berkali lipat. Maksud saya, bahkan setelah menyelesaikan balapan Sprint, saya sempat bingung di mana saya berada. Saat berada di podium, saya sempat bertanya, 'Apakah saya sedang di Phillip Island atau masih di Mandalika?' Lalu, karena suhunya, saya pun sadar!"
"Saya Berharap Bisa Melihat Jorge di Sepang"
Akhir pekan berakhir lebih cepat bagi Jorge Martin usai kecelakaan pada Lap 8 saat balapan Sprint. Martinator menderita patah tulang tanpa pergeseran (non-displaced fracture) pada bagian distal radius, dan dipastikan ia tidak akan kembali ke Spanyol untuk menjalani perawatan. Keikutsertaannya dalam GP Malaysia belum dapat dipastikan—jadi, pantau terus media sosial dalam beberapa hari ke depan—meskipun CEO Aprilia Racing, Massimo Rivola, mengakui bahwa kembalinya #89 akan sulit.
Rivola: "Sangat, sangat sulit. Saya berharap bisa melihat Jorge di Sepang, setidaknya bersama kami. Kita lihat saja nanti. Menurut saya, perjalanan antara Aprilia dan Jorge memang cukup kurang beruntung. Sisi baiknya kali ini adalah kondisi tulang yang patah tidak terlalu parah. Namun, saya ingin kisah kami berdua berakhir dengan cara terbaik, di mana ia berada dalam kondisi fisik 100% prima.
"Kemarin ia menyuguhkan penampilan yang luar biasa. Saya rasa kita melihat sosok Jorge yang sesungguhnya, dan menurut saya ia punya peluang untuk memenangi balapan. Tapi, ya, terkadang hal-hal buruk memang bisa terjadi. Kami memang kurang beruntung dalam kerja sama ini, tetapi yang pasti, kami tidak akan menyerah selama ia masih mampu."
"Kalian adalah Fans Terbaik di Dunia"
Mengharukan. Untuk terakhir kalinya di MotoGP, Jack Miller (Prima Pramac Yamaha MotoGP) mengucapkan selamat tinggal kepada para penggemar asal Australia yang telah mendukung sepanjang kiprahnya di kelas utama. Dengan mengenakan livery bernuansa hijau dan emas khas Australia yang mencolok, Thriller Miller melakukan lap of honour yang istimewa—menyuguhkan pertunjukan bagi fans, walau balapan Grand Prix tidak dapat terlaksana.
Miller: "Situasinya sedikit berbeda dibandingkan saat semuanya dimulai bersama Wayne Gardner pada 1989. Namun, para penggemar sungguh luar biasa selama bertahun-tahun ini. Sepanjang satu dekade saya di sini, kalian semua adalah yang terbaik. Saya bisa mewakili rekan-rekan pembalap lainnya—saya yakin mereka pun telah menyampaikannya sepanjang akhir pekan ini—sungguh luar biasa bisa menghadirkan mereka semua ke sini akhir pekan ini.
"Sebuah kehormatan besar bisa berlomba di hadapan kalian. Kalian adalah penggemar terbaik di dunia. Saya memohon maaf karena harus melewatkan satu balapan lagi di sini.
"Alangkah baiknya jika bisa menggunakan corak warna ini dalam sebuah persaingan sengit, tetapi yang pasti, kita berhasil memenangi gelar 'penampilan terbaik'!"
"Dia Akan Berusaha Keras untuk Menyulitkan Kami"
Manajer Tim Ducati Lenovo, Davide Tardozzi, memiliki banyak hal untuk dibahas setelah GP Australia. Ia memperkirakan pertarungan sengit akan terus berlangsung hingga garis finis. Tardozzi juga menyinggung pembatalan balapan Grand Prix, sembari menyampaikan harapan terbaiknya untuk Martin, serta mengakui bahwa ia terus memantau para kontender—terutama Marco Bezzecchi (Aprilia Racing) yang tertinggal 50 poin.
Tardozzi: "Martin melakukan kesalahan, tetapi ia tampil sangat, sangat kompetitif. Saya tidak tahu apakah Marc akan mampu mengalahkannya di akhir balapan. Menurut saya, persaingan berlangsung ketat hingga akhir, namun sayangnya, ia melakukan kesalahan.
"Kami tahu lawan-lawan kami sangat kuat. Mereka memiliki dua pembalap yang bersaing untuk memperebutkan gelar juara. Kami sangat menghormati mereka karena kami memahami potensi yang mereka miliki, baik sebagai tim pabrikan maupun sebagai pembalap. Namun sekali lagi, kami adalah Ducati, kami selalu ada di barisan depan, dan kami punya Marc Marquez."
Mengenai pembatalan GP Australia, Tardozzi menambahkan, "Bagi Ducati, jelas bahwa kami kehilangan sebuah kesempatan. Namun, prioritas utama kami di Ducati selalu tertuju pada keselamatan pembalap. Hal ini berada di atas segalanya: olahraga, bisnis, maupun aspek lainnya."
"Jika Risikonya Terlalu Tinggi, Saya Tidak Akan Menyerangnya"
Situasi yang cukup sulit dihadapi Alex Marquez (BK8 Gresini Racing MotoGP), yang pada balapan Sprint berada dalam grup tiga pembalap terdepan. Rider #73 finis posisi kedua, tepat di belakang Marc Marquez dan mengamankan sembilan poin. Usai balapan, Alex Marquez mengungkapkan perasaannya, seraya mengakui bahwa ia akan selalu mempertimbangkan tingkat risiko saat harus bersaing dengan melawan kakaknya sendiri.
Alex Marquez: "Jika risikonya besar, saya tidak akan mengambil risiko apa pun saat mencoba menyalipnya. Dia adalah kakak saya dan kami menggunakan motor dari pabrikan yang sama. Jika risikonya terlalu tinggi, saya tidak akan menyerangnya.
"Pada awal balapan, saat saya menyerang Jorge (Martin), niat saya adalah untuk turut menyerang Marc dan memanfaatkan kecepatan yang saya miliki. Tetapi kemudian Jorge menyerang balik, sehingga saya tidak bisa berbuat lebih banyak lagi."