Marc Marquez (Ducati Lenovo Team) memulai balapan Tissot Sprint dari posisi start keenam di Qatar Airways Grand Prix Inggris. Ia sempat naik ke posisi keempat pada lap pembuka setelah menyalip Marco Bezzecchi (Aprilia Racing). Namun, rider #93 lalu kehilangan kecepatan sejak pertengahan balapan.
Pada lap terakhir, catatan waktunya 4,4 detik lebih lambat dibandingkan lap tercepatnya sendiri, yang dicetak pada lap kedua. Marquez akhirnya finis posisi kesembilan – tertinggal 13,965 detik dari pemenang Sprint Silverstone, Jorge Martin (Aprilia Racing).
Menyusul hasil satu poin yang diraupnya, Marquez turun ke peringkat keempat klasemen Kejuaraan. Ia sekarang berjarak 29 poin di belakang Martinator.
"Itu adalah hal yang tidak saya duga maupun prediksi, namun kenyataannya terjadi. Kami perlu menganalisis penyebabnya. Apakah saya memacu ban terlalu keras pada lap-lap awal? Apakah suhunya melonjak? Adakah yang bisa kami lakukan pada setup motor untuk balapan besok agar ban lebih awet? Kami akan menggunakan ban kompon medium besok, tetapi itu tidak akan memberikan perbedaan yang sangat besar; jenis ban itu tidak mengubah karakteristik secara drastis," tuturnya.
"Jadi, kami harus memahami mengapa hal ini terjadi. Jika tidak, balapan besok akan menjadi bencana. Tidak ada kejadian seperti ini selama sesi latihan; kecepatan saya konsisten, namun masalah ini tetap saja muncul. Yah, yang terpenting adalah saya tidak terjatuh, karena ada beberapa momen yang sangat kritis."
Paling Terdampak
Lebih lanjut, yang bisa dilakukan Marquez sepanjang Sprint Silverstone adalah mode bertahan diri. Alih-alih mengambil risiko atau memaksakan laju motor, ia memilih bermain aman demi mendulang poin semaksimal mungkin.
"Saya berusaha mengejar grup terdepan pada lap ketiga, tetapi merasakan keanehan pada ban belakang. Saya berhasil melanjutkan balapan, namun saya sadar bahwa ini telah berubah menjadi upaya untuk sekadar bertahan, dan saya mulai memikirkan posisi saya. Mengapa harus mengambil risiko? Finis ketujuh? Mencetak poin? Menurut saya, tidak ada perbedaan yang terlalu signifikan," terangnya.
"Kami jelas perlu memahami situasi ini untuk balapan besok. Sesi latihan… Saya khawatir karena masalah seperti ini tidak terjadi sebelumnya. Saya perlu menentukan apakah harus menyesuaikan gaya balap untuk balapan besok atau mengubah setup motor agar ban lebih awet. Kami harus mengevaluasi segalanya sekarang, dan setiap orang perlu menjalankan perannya demi meraih hasil yang lebih baik."
Marquez menambahkan, sebelumnya tidak ada masalah yang terjadi selama sesi latihan. Bahkan, saat Free Practice 2, ia menggunakan ban yang sama dengan yang dipakainyai untuk upaya serangan waktu (time attack) pada satu lap kemarin.
"Biasanya performa ban akan menurun, tetapi saya tidak merasakannya; saya berhasil mencatatkan empat lap yang bagus secara berturut-turut. Namun, masalah itu tetap muncul. Bukan hanya saya yang mengalaminya, tetapi saya yang paling terdampak. Kami perlu menganalisis data dan mencari tahu penyebab pastinya," ucapnya.
Kebingungan Saat Kualifikasi
Sementara itu, ketika menjalani sesi Q2, Marquez sempat mengira ada kibaran bendera kuning. Tetapi setelah menyadari bahwa itu bukan yellow flag, waktunya sudah terlambat baginya untuk meningkatkan catatan waktu.
"Saat melihat tayangan ulang, situasinya tampak seperti ada bendera kuning, benar-benar terlihat seperti itu. Begitu saya menyadari bahwa sebenarnya tidak ada bendera kuning, semuanya sudah terlambat. Seandainya lap itu dihitung, saya mungkin bisa memulai balapan dari baris depan, yang bisa saja mengubah dinamika balapan. Tapi ya, begitulah kenyataannya," paparnya.
"Hal yang terpenting adalah saya memiliki kecepatan untuk mencatatkan satu lap yang cepat. Sekarang, saya harus mengelola penggunaan ban dengan cermat agar bisa mempertahankan kecepatan yang konsisten dalam balapan besok."