Talking Points: Side by Side Marc Marquez-Marco Bezzecchi

Dengan naiknya Marc Marquez ke peringkat kedua klasemen dan selisih hanya 24 poin di antara tiga pembalap teratas, ada banyak hal menarik untuk dibahas usai GP Aragon

Strategi di tikungan pertama menjadi penentu jalannya balapan di MotorLand akhir pekan lalu. Ya, Michelin® Grand Prix Aragon menyuguhkan banyak aksi menarik, mulai dari rekor lap sepanjang masa yang dicetak Bezzecchi (Aprilia Racing) saat kualifikasi, hingga penampilan gemilang Marc Marquez (Ducati Lenovo Team) yang membukukan kemenangan ganda di hadapan pendukung tuan rumah, sekaligus mencatatkan kemenangan MotoGP ke-77 dari 218 balapan yang diikutinya.

Perebutan titel Kejuaraan semakin sengit. Marc Marquez menuju Misano dengan selisih hanya 19 poin di belakang Jorge Martin (Aprilia Racing), sementara Marco Bezzecchi tertinggal 24 poin.

"Saya Harus Tampil Maksimal di Sirkuit yang Cocok dengan Gaya Balap Saya"

Rencana Marc Marquez (Ducati Lenovo Team) sudah jelas. Langsung menyerang sejak awal. Sempat mengalami momen menegangkan di sektor pembuka akibat lupa menonaktifkan perangkat ride-height belakang, sang Juara Dunia bertahan lalu bangkit, memimpin balapan, dan mengendalikannya dengan sempurna.

"Hari ini saya mengulangi strategi kemarin, menyerang di tikungan pertama. Tapi saya melakukan kesalahan besar karena lupa menonaktifkan perangkat belakang. Saat lap pemanasan, di lurusan belakang (back straight), biasanya kita mengaktifkannya lalu harus ingat untuk menonaktifkannya sebelum start. Saya lupa melakukannya," tuturnya.

"Start saya sempurna dan tikungan pertama pun saya lalui dengan sempurna, tapi saat beralih dari tikungan pertama ke tikungan kedua, perangkat belakang itu masih aktif. Motor berada dalam posisi sangat rendah di sepanjang sektor satu. Itu momen yang menakutkan dan membuat segalanya menjadi lebih sulit.

"Ada satu momen di ujung lurusan di mana rasanya motornya seolah menarik saya masuk—kami benar-benar menempel rapat. Saya mencoba bergerak ke kanan, tetapi meski sedang di gigi enam, roda depan motor saya sempat terangkat sedikit (wheelie). Mustahil untuk melepaskan diri dari motornya.

"Pada satu titik, Marco sedikit mengendurkan gas karena terkena dampak dirty air, dan sejak saat itu saya bisa memimpin balapan.

"Saat balapan menyisakan sepuluh lap, saya sedikit memacu kecepatan, menciptakan jarak, lalu kembali mengontrol situasi.

"Saya terutama berusaha mengendalikan risiko dan menjaga kondisi ban saat melibas tikungan ke kanan. Saat tersisa sepuluh lap, saya tahu kondisi ban masih bagus dan saya punya cukup tenaga untuk menyerang. Itulah yang saya lakukan. Saya lebih agresif saat melewati tikungan ke kanan, memperlebar jarak, dan mencatatkan waktu lap di kisaran 1 menit 46 detik."

Marquez kini menempati peringkat kedua klasemen Kejuaraan, tertinggal 19 poin dari Jorge Martin, namun pembalap bernomor 93 itu sadar masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan.

"Sepertinya Jorge dan Marco membalap dengan sangat baik. Mereka sangat cepat. Bukan hanya mereka—(Ai) Ogura akan kembali, begitu pula (Fabio) Di Giannantonio, dan hari ini (Pedro) Acosta menunjukkan kemampuannya," ucapnya.

"Jika saya ingin memiliki sedikit peluang untuk bersaing memperebutkan gelar juara, saya harus tampil maksimal di sirkuit-sirkuit yang cocok dengan gaya balap saya.

"Jika saya ingin siap saat momen saya tiba, saya perlu melihat semua opsi yang ada."

"Jika Saya Ingin Siap Saat Momen Saya Tiba, Saya Perlu Melihat Semua Opsi yang Ada"

Pedro Acosta (Red Bull KTM Factory Racing) nyaris membawa KTM kembali ke podium tertinggi. Ia terus menekan dua pembalap terdepan hingga akhirnya mengamankan posisi kedua yang gemilang. Namun, pembalap bernomor #37 ini lebih mementingkan gambaran besarnya. Yakni meningkatkan konsistensi, menyesuaikan gaya balap, dan memastikan dirinya siap ketika kesempatan untuk menang itu datang.

"Masih jauh perjalanannya untuk menjadi seorang legenda! Saya rasa kami sedang melakukan hal yang tepat. Saya sempat mendesak tim dengan keras karena merasa kami justru mengalami kemunduran. Dengan segala masalah keandalan motor yang kami alami di awal musim, rasanya cukup berat melihat peringkat ketiga di klasemen Kejuaraan perlahan menjauh dari jangkauan kami," kata Acosta.

"Sekarang, segalanya tampak berjalan lancar. Kami menjalani balapan-balapan yang bagus. Memang benar kami masih jauh dari kemenangan, tetapi di sisi lain, kami mulai menemukan konsistensi yang baik di posisi lima besar. Untuk itu, kami harus benar-benar merasa puas.

"Itu adalah momen bagi saya untuk mencoba mengejar Marc dan Marco serta membalap bersama mereka. Marco mencatatkan kecepatan yang luar biasa di awal balapan, dan Marc berusaha keras untuk mengejarnya kembali. Saya hanya berusaha mengikuti jalannya balapan. Pada akhirnya, saya tahu Marc masih menyimpan tenaga karena dari belakang, dia terlihat sangat tenang. Saya hanya berusaha tetap berada di dekat mereka dan melihat di posisi berapa saya bisa finis. Selisih finis kami tidak terlalu jauh, namun masih ada pekerjaan yang harus dilakukan.

"Di saat-saat terakhir, mereka berdua bergerak ke arah kiri dan saya mendapatkan sedikit keuntungan slipstream, jadi saya memutuskan untuk bergerak ke kanan. Akhirnya, saya berada di posisi yang tepat, meskipun saya harus sedikit melindas kerb. Menurut saya, itu adalah manuver yang berisiko, mengingat kecepatan yang saya bawa saat itu.

"Saat ini, saya ingin fokus pada apa yang saya miliki. Saya masih tertinggal cukup jauh dalam hal kecepatan satu lap, terutama saat kualifikasi. Biasanya, saya kesulitan menempati baris depan, posisi yang memberikan keuntungan saat balapan dimulai. Tetapi, seperti yang saya katakan, saat ini saya ingin fokus pada hal-hal yang bisa membantu saya memenangkan balapan, alih-alih memikirkan apa yang belum saya miliki.

"Saya bahkan mencoba mengubah gaya balap saya. Biasanya, saya selalu mengambil racing line yang lebih rapat saat menikung dan membuat ban lebih cepat aus dibandingkan pembalap lain. Kini, saya mencoba mengubah gaya tersebut sedikit demi sedikit. Jika ingin siap saat kesempatan itu tiba, saya perlu mulai mempertimbangkan berbagai opsi dan beragam cara dalam membalap."

"Untuk Bertarung Melawan Mereka, Anda Benar-benar Harus Tampil Sempurna"

Mulai dari mencetak rekor lap sepanjang masa, merebut pole position, hingga berduel sengit memperebutkan kemenangan dengan Marc Marquez, Marco Bezzecchi benar-benar menjadi pusat perhatian di Aragon. Pembalap Aprilia ini akhirnya harus puas finisi ketiga. Tetapi setelah mengemas dua podium di sirkuit yang biasanya tidak terlalu menguntungkan bagi pabrikan Noale, ada banyak hal yang membuat #72 tersenyum puas.

"Balapan itu berlangsung sengit, panjang, dan cuacanya sangat panas. Sejak awal, bahkan saat saya sedang memimpin, saya bisa melihat bahwa kecepatan saya tidak sebaik yang saya harapkan. Saya berusaha keras untuk memperlebar jarak, tetapi saya tahu Marc akan kembali menekan," ujar Bezzecchi.

"Sejujurnya, saya ingin membuat hidupnya sedikit lebih sulit—begitu pula dengan Pedro—tetapi saya kehilangan kedua posisi itu hanya dalam hitungan detik! Namun, saya sangat menikmatinya. Akhir pekan yang luar biasa. Tahun lalu saya datang ke sini dan memulai balapan dari posisi paling belakang. Tahun ini saya meraih pole position dan mendapatkan dua podium, jadi saya sangat puas.

"Secara keseluruhan, saya sependapat dengan Marc. Balapan itu memang berat. Saya mencoba melakukan manuver balasan di Tikungan 15 saat dia menyalip saya, tetapi ketika kami berada dalam jarak dekat di lurusan, aliran udara terasa aneh. Saya ingin menjauh, tetapi terkadang saya justru seperti tertarik mendekat ke arahnya.

"Lalu posisi saya jadi agak terlalu ke kiri, sehingga saya harus mengerem sedikit lebih awal. Saat itulah Pedro menyalip dari sisi kanan dengan kecepatan tinggi, dan sayangnya saya kehilangan satu posisi lagi. Tapi itu momen yang lucu.

"Dengan suhu yang lebih panas dibandingkan saat sesi latihan, saya merasa sedikit lebih kesulitan. Kami akan bekerja keras untuk memahami apa yang bisa saya lakukan secara berbeda dan di mana kami bisa melakukan perbaikan.

"Jelas, di Silverstone saya sama sekali tidak menyangka bisa naik podium, tapi sejujurnya, di sini pun saya tidak terlalu berharap demikian. Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, ini adalah lintasan yang secara historis menyulitkan bagi kami. Aprilia tidak pernah benar-benar kompetitif di sini. Tahun lalu saya cukup cepat, tetapi akhir pekan balapan itu sangat berat. Dua akhir pekan balapan ini sungguh luar biasa bagi saya.

"Sekarang saya harus berusaha meningkatkan kebugaran fisik karena untuk bersaing dengan para pembalap lain, kondisi fisik benar-benar harus prima. Saya akan berlatih keras saat di rumah nanti.

"Ini jelas sebuah peningkatan dibandingkan Silverstone. Masalahnya lebih terasa saat saya sedang memacu motor. Di sini, dengan banyaknya tikungan ke kiri, bahu saya tidak terlalu bermasalah, justru lutut saya yang lebih terasa sakit. Cara jalan saya pun masih agak mirip seperti Doctor House!

"Saya harus menerima kondisi ini untuk sementara waktu. Butuh waktu untuk bisa pulih sepenuhnya. Hal terbaik yang bisa saya lakukan adalah berusaha membangun kembali otot dan kekuatan di sisi kiri tubuh yang sempat berkurang, serta mencoba mengimbanginya dengan kondisi tersebut."

"Saya Memilih Mengamankan Poin ketimbang Ambil Risiko dan Terjatuh"

Akhir pekan di Aragon ini bukanlah seperti yang diharapkan Jorge Martin (Aprilia Racing), namun sang pemimpin klasemen Kejuaraan memastikan hasilnya tetap produktif. Karena masalah cengkeraman ban (grip) menjadi kendala utamanya, pembalap Aprilia ini menerima hasil yang bisa diraih, mengamankan posisi kelima dua kali, dan kini menuju Misano dengan keunggulan 19 poin di puncak klasemen.

"Hasilnya berbeda dari dugaan saya. Saya sempat optimistis bisa meraih hasil lebih baik jika start dengan bagus, tapi ternyata tidak bisa. Posisi lima besar adalah hasil maksimal yang bisa dicapai, dan saya senang bisa meraihnya. Sekarang saya ingin melangkah maju dan memikirkan balapan di Misano," terangnya.

“Setelah Silverstone, feeling saya terhadap motor sedikit lebih baik dan saya pikir bisa bersaing memperebutkan podium. Namun, pada hari Jumat, saya melihat hal itu tidak mungkin, dan saya sadar bahkan untuk masuk lima besar pun akan sulit. Setidaknya hari ini posisi saya lebih dekat ke podium dibandingkan kemarin.

"Masalah cengkeraman ban menjadi batasan utama saya sepanjang akhir pekan. Saya sangat kesulitan. Menjelang paruh kedua balapan, kondisi mulai terasa sedikit lebih baik dan saya bisa mengejar Alex (Marquez). Jadi secara keseluruhan, saya senang dengan hal itu. Namun, inilah hasil maksimal yang bisa saya capai.

"Saya memilih mengamankan poin. Saya lebih memilih itu daripada mengambil risiko lalu terjatuh. Saya harus menerimanya. Mungkin di balapan-balapan berikutnya saya harus mengambil lebih banyak risiko, tapi tidak untuk balapan kali ini.

"Saya bisa merasakan motornya dengan baik. Kondisinya tidak seperti di Brno atau Sachsenring, di mana saya sama sekali tidak mendapatkan feeling dengan motor. Saya bisa merasakan apa yang terjadi, tapi performanya tidak mendukung. Ban sering selip di mana-mana dan saya tidak bisa mempertahankan kecepatan. Saya tidak bisa membangun kecepatan, dan itulah masalah utamanya.

"Tapi saya senang karena bisa merasakan karakter motornya. Itu sangat penting, karena begitu cengkeraman atau traksi ban tersedia, masalah ini tidak akan lagi menjadi kendala. Misano dan Austria bisa jadi balapan yang bagus. Saya rasa masalahnya lebih terletak pada karakteristik trek ini.

"Sejujurnya, saya sangat ingin menuntaskan akhir pekan ini. Saya berhasil meraih dua posisi lima besar, dan itu hasil yang lumayan. Di akhir pekan yang sangat buruk—menurut saya ini yang terburuk musim ini dari segi kecepatan—saya masih bisa mendulang poin.

"Saya terus berupaya untuk berkembang setiap harinya. Saya masih memimpin klasemen Kejuaraan, jadi pastinya ada hal yang sudah saya lakukan dengan benar."

"Itu adalah 'Kereta' yang Saya Bicarakan Kemarin"

Memulai balapan dari baris depan menjanjikan banyak hal bagi Alex Marquez (BK8 Gresini Racing MotoGP). Namun setelah terjebak dalam perebutan posisi pada lap pembuka, pembalap bernomor #73 ini mendapati dirinya menjalani jenis balapan yang persis seperti yang telah ia prediksi. Ia akhirnya berhasil naik ke posisi keempat, tetapi karena cengkeraman ban sangat terbatas, upaya untuk menembus persaingan memperebutkan podium terasa terlalu berat.

"Ya, balapan ini agak membosankan! Tidak banyak aksi saling menyalip, kecuali pada lap pertama dan beberapa kali setelahnya. Jalannya balapan seperti kereta—'kereta' yang saya bicarakan kemarin—jadi ini benar-benar jenis balapan yang saya perkirakan," ucapnya.

"Start dan lap pertama tidaklah mudah. ​​Situasi seperti ini lebih mudah dibaca saat kita berada sedikit di belakang dibandingkan saat kita berada sangat dekat dengan pembalap lain. Saya tidak bisa menemukan celah, dan saya juga melakukan kesalahan saat keluar dari Tikungan 2 menuju Tikungan 3. Saya gagal masuk ke gigi tiga, jadi motor tidak berakselerasi dengan optimal.

"Setelah itu, ya begitulah jalannya balapan. Belakangan, saya menemukan ritme saya dan, perlahan-lahan, saya berhasil menyalip dua pembalap serta menjaga konsistensi. Namun, itu belum cukup untuk mendapatkan tambahan kecepatan yang dibutuhkan.

"Saya sangat kesulitan dengan bagian depan, belakang, dan cengkeraman umum dari kedua ban. Tapi kami harus tetap senang karena kami berhasil mempertahankan level performa yang saya tunjukkan dalam beberapa balapan terakhir. Posisi kami tidak buruk, meski memang benar akhir pekan ini kami tidak mencapai performa maksimal.

"Situasi di Silverstone hampir berkebalikan. Di sana, kami bisa sedikit menghemat dan mengelola ban belakang, sedangkan di sini kondisinya justru sebaliknya. Pembalap Ducati lainnya mampu mengelola ban jauh lebih baik daripada saya. Aneh rasanya karena jenis bannya sama, rapi perilakunya sangat berbeda.

"Menurut saya, tahun lalu tingkat cengkeraman lintasan secara keseluruhan sedikit lebih baik. Lap tercepat saya justru terjadi di akhir balapan, sekitar Lap 21 atau 23, jadi cengkeraman ban memang membaik secara bertahap. Tahun ini, sejak awal, saya tidak benar-benar merasakan cengkeraman tersebut.

"Terkadang Anda langsung mendapatkan feeling dan cengkeraman ban yang pas, namun terkadang Anda harus bersusah payah. Balapan ini persis seperti yang saya perkirakan sebelum balapan dimulai."

MotoGP™ VideoPass Kini Diskon 50%!

Hanya berlaku hingga akhir musim 2026.

Langganan Sekarang!

"Cengkeraman Ban Saya Nol. Nol"

Tidak banyak hal positif yang bisa dipetik Francesco Bagnaia (Ducati Lenovo Team) dari akhir pekan yang berat di MotorLand. Setelah terus-menerus kesulitan mendapatkan cengkeraman ban belakang, kiprah pembalap Ducati Lenovo Team itu pada hari Minggu berakhir lebih cepat akibat ban belakang yang selip dan membuatnya terjatuh—meninggalkan pembalap bernomor #63 ini dengan tanda tanya besar usai satu lagi seri balapan yang sulit.

"Ban belakang saya kehilangan traksi, lalu ban depan juga ikut kehilangan traksi. Sesederhana itu," ungkap Pecco.

"Masalah kurangnya cengkeraman ban belakang ini sangat parah, karena kenyataannya cengkeraman saya nol. Nol. Setelah lima lap, saya beralih ke map mesin dengan tenaga lebih rendah karena ban belakang sudah benar-benar habis—padahal saat itu saya tidak memacu motor secara agresif ataupun melakukan manuver ekstrem.

"Saya sangat kesulitan dan motor terasa sangat tidak stabil. Ban belakang kehilangan traksi, dan saat traksi itu kembali, justru ban depan yang kehilangan cengkeraman.

"Sensasi berkendara tidak terlalu buruk sampai seri Sachsenring. Semuanya berjalan konsisten. Saya memang sedikit kesulitan, tetapi hasilnya lebih menjanjikan.

"Namun, sejak Silverstone, ada sesuatu yang berubah karena cengkeraman ban saya benar-benar nol. Saya tidak tahu bagaimana jadinya saat kami tiba di sirkuit lain yang memiliki tingkat cengkeraman rendah. Saya bahkan tidak bisa membayangkannya.

"Set-up motornya serupa. Kemarin pagi rasanya sedikit lebih baik dan kami mencoba memindahkan lebih banyak beban ke bagian belakang, tetapi hal itu justru menyulitkan saat balapan Sprint. Jadi, kami kembali menggunakan set-up yang kurang lebih sama dengan yang kami pakai sepanjang musim ini.

"Sesi Warm Up pagi ini kacau karena berbagai alasan, tetapi saat balapan, segalanya praktis berakhir setelah lima lap."

Dapatkan Newsletter Resmi MotoGP™!
Buat akun sekarang untuk mengakses konten video, laporan hasil balapan, hingga Newsletter MotoGP™ serta informasi menarik lainnya.