Perebutan gelar juara MotoGP 2026 telah berlangsung sengit sejak balapan pembuka di Buriram. Namun, tensi kian meningkat jelang akhir musim panas Eropa dan dimulainya rangkaian flyaway races. Tersisa 9 ronde—yang berarti ada 18 balapan (9 Sprint dan 9 Grand Prix)—yang siap menentukan hasil akhir dari musim penutup era 1.000cc.
Dengan lebih dari 300 lap tersisa hingga bendera finis dikibarkan dan perjalanan musim 2026 yang masih panjang, penentu kampiun mungkin bukan siapa yang tercepat, melainkan siapa yang paling cerdas dalam mengambil keputusan. Demikianlah pandangan General Manager Ducati Corse, Gigi Dall’Igna, saat berbicara kepada Sky Sport Italia.
"Sejarah beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa memenangi 11 balapan bukanlah hal yang krusial"
"Menurut pendapat saya, Kejuaraan Dunia ini akan dimenangi oleh siapa pun yang mampu berpikir paling jernih mulai saat ini hingga akhir musim," ucap pria Italia yang kini menaungi Juara Dunia bertahan, Marc Marquez (Ducati Lenovo Team)—yang hanya terpaut 19 poin dari pemuncak klasemen, Jorge Martin (Aprilia Racing).
"Mengumpulkan poin dan menghindari kesalahan akan menjadi kunci, karena sejarah beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa memenangi 11 balapan bukanlah hal yang krusial. Anda bisa memenangi kejuaraan dengan jumlah kemenangan lebih sedikit, namun Anda harus tampil lebih konsisten dan stabil; yang terpenting, Anda tidak boleh sampai gagal finis tanpa poin."
SEJARAHNYA
Ducati Lenovo Team pernah merasakan kedua sisi dari dilema antara konsistensi dan kecepatan. Pada 2022, Francesco Bagnaia memadukan keduanya untuk membalikkan ketertinggalan 91 poin dan merengkuh titel MotoGP pertamanya. Raihan 5 kemenangan, 8 podium, dan 1 kali gagal finis dalam 10 Grand Prix terakhir terbukti cukup bagi Pecco untuk membalikkan keadaan, setelah hanya mencatatkan 2 kemenangan, tanpa podium, dan 4 kali gagal finis pada paruh pertama musim.
Kemudian, pada 2024, meskipun memenangi 11 balapan Grand Prix dan meraih 16 podium, tiga insiden gagal finis yang merugikan—ditambah dengan kecelakaan dalam Sprint—membuat Bagnaia gagal meraih gelar juara ketiga secara beruntun. Ia tertinggal 10 poin dari Jorge Martin pada klasemen akhir. Martinator, yang juga mencatatkan 16 podium, memang hanya memenangi 3 balapan Grand Prix. Tetapi ia berhasil mengumpulkan 16 podium Sprint, dengan 7 di antaranya adalah kemenangan.
SITUASI 2026
Skenario menjelang sepertiga akhir musim tampak berbeda, setidaknya untuk saat ini. Persaingan kini melibatkan tiga pembalap. Martin memimpin dengan 256 poin, Marc Marquez berada di peringkat kedua dengan 237 poin, dan Marco Bezzecchi (Aprilia Racing)—yang sempat memimpin klasemen cukup lama pada awal musim—menempati peringkat ketiga dengan 232 poin.
Pertarungan yang melibatkan tiga pembalap berarti potensi perubahan selisih poin yang lebih besar, risiko kesalahan yang lebih tinggi, serta dinamika pertarungan yang berbeda—yang menuntut keseimbangan antara strategi bertahan dan menyerang. Ducati Lenovo Team telah mengklaim tiga dari empat titel Pembalap terakhir, sementara Aprilia Racing belum pernah finis dua besar, tetapi kini memiliki kedua pembalap mereka dalam persaingan gelar juara.
Martin pernah menjadi Juara Dunia dan paham cara mengelola keunggulan poin, sedangkan Bezzecchi berambisi meraih gelar pertamanya. Sementara itu, Marc Marquez berusaha mempertahankan titel Kejuaraan Dunia yang direngkuhnya pada 2025–setelah paruh pertama musim 2026 sempat terhambat cedera, yang membuatnya terpaut lebih dari 100 poin.
PERSAINGAN TIGA PEMBALAP? Bukan yang Pertama Kali
Perburuan gelar juara yang melibatkan tiga pembalap memang jarang terjadi, namun bukan hal mustahil. Dua puluh tahun lalu, pada musim ikonik 2006, terjadi pertarungan lima arah saat musim menyisakan dua putaran. Sementara duel penentu musim 1991 antara Wayne Rainey, Mick Doohan, dan Kevin Schwantz memperlihatkan ketiganya masih memiliki peluang nyata saat Kejuaraan Dunia menyisakan tiga balapan. Sesekali, kita disuguhi tontonan istimewa seperti ini. Ya, sudah lama sekali kita tidak menyaksikan persaingan semacam ini.
Kembali ke 2026, siapa yang bisa memastikan bahwa persaingan akan tetap terbatas pada ketiga pembalap tersebut? Sejak GP Hungaria, Ai Ogura (SuperFile Trackhouse MotoGP Team) telah mengumpulkan poin terbanyak kedua—111 poin—termasuk kemenangan perdananya di Assen. Sedangkan pembalap yang mencetak lebih banyak dari Ogura adalah Marc Marquez, yakni 166.
Rekan setim Ogura, Raul Fernandez, menempati peringkat keempat dalam perolehan poin sejak periode yang sama dengan total 99 poin, serta sempat memenangi Sprint di Assen dan balapan Grand Prix di Silverstone. Ogura berjarak 53 poin dari Martin, sementara Fernandez tertinggal 70 poin. Tantangan berat menanti keduanya, meski secara matematis peluang mereka masih terbuka.
Sejauh ini, sudah ada dua pemuncak klasemen Kejuaraan Dunia dan empat pembalap berbeda yang sempat menempati peringkat kedua klasemen usai berakhirnya sebuah balapan. Kita akan disuguhi penutup musim 2026 yang sangat seru dan menegangkan. Jadi, kangan sampai terlewatkan!